Selamat Datang dan Selamat Membaca

Senin, 29 Oktober 2012

Model dan Konsep Keperawatan Menurut Dorothea Orem


BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Model Konsep Keperawatan.
Model konsep menurut Dorothea Orem yang dikenal dengan Model Self Care (perawatan diri) memberikan pengertian jelas bahwa bentuk pelayanan keperawatan dipandang dari suatu pelaksanaan kegiatan dapat dilakukan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar dengan tujuan mempertahankan kehidupan, kesehatan, kesejahteraan sesuai dengan keadaan sehat dan sakit, yang ditekankan pada kebutuhan klien tentang perawatan diri sendiri.
Model Self Care (perawatan diri) ini memiliki keyakinan dan nilai yang ada dalam keperawatan di antaranya dalam pelaksanaan berdasarkan tindakan atas kemampuan. Self Care didasarkan atas kesengajaan serta dalam pengambilan keputusan dijadikan sebagai pedoman dalam tindakan, setiap manusia menghendaki adanya Self Care (perawatan diri) dan sebagai bagian dari kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow dalam Teori Hierarki kebutuhan masyarakat bahwa setiap manusia memiliki lima dasar kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisiologis (makan, minum), keamanan,cinta, harga diri dan aktualisasi diri. Seseorang mempunyai hak dan tanggung jawab dalam perawatan diri sendiri dan orang lain dalam memelihara kesejahteraan, Self Care (perawatan diri) merupakan perubahan tingkah laku secara lambat dan terus menerus didukung atas pengalaman sosial sebagai hubungan interpersonal (hubungan antara satu individu dengan individu lain), hubungan interpersonal dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan sekedar hubungan interpesonal. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menuntukan conten (isi pesan) melainkan juga menentukan relationship (hubungan). Self Care akan meningkatkan harga diri seseorang dan dapat mempengaruhi dalam perubahan (konsep diri). Konsep diri merupakan representasi fisik seseorang individu, pusat inti dari “aku” dimana semua persepsi dan pengalaman terorganisasi.
Konsep terdiri dari ada lima komponen yaitu:
1.    Gambaran Diri
Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar atau tidak sadar termasuk persepsi dan perasaan tentang ukuran dan bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu. Gambaran diri ini harus realistis (nyata) karena lebih banyak seseorang menerima dan menyukai tubuhnya akan lebih aman sehingga harga dirinya meningkat.
Perubahan pada tubuh seperti perkembangan payudara, perubahan suara, menstruasi. Hal ini merupakan perubahan yang dapat mempengaruhi gambaran diri seseorang.
2.    Ideal Diri
Idel diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku sesuai dengan standar pribadi. Standar ini dapat berhubungan dengan tipe orang atau sejumlah aspirasi cita-cita nilai yang di capai. Ideal diri di mulai berkembang pada masa kanak-kanak yang di pengaruhi oleh orang-orang penting yang memberikan tuntutan atau harapan. Pada masa remaja, ideal diri akan di bentuk melalui proses indentifikasi pada orang tua, guru dan teman.  Ideal diri sebaiknya di tetapkan lebih tinggi dari kemampuan individu saat ini tapi masih dalam batas yang dapat di capai. Ini di perlukan oleh individu untuk memacu dirinya ketingkat yang lebih tinggi.
3.    Harga Diri
Harga diri adalah penilaian pribaditerhadap hasil yang di capai dengan menganalisa seberapa jauh periluku memenuhi ideal diri.
Harga diri yang tinggi berakar dari penerimaan diri tanpa syuarat sebagai individu yang berarti dan penting walaupun salah, gagal atau kalah. Harga diri di peroleh dari penghargaan diri sendiri dan dari orang lain yaitu perasaan dicintai, dihargai, dan dihormati.
4.    Peran
Peran adalah pola sikap, prilaku, nilai dan tujuan yang di harapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat. Posisi di massyarakat dapat menjadikan stressor terhadap peran karena stuktur sosial yang menimbulkan kesukaran atau tuntutan posisi yang tidak mungkin dilaksanakan.
5.    Indentitas
Indentitas adalah kesadaran diri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri terhadap sebagai suatu  kesatuan yang utuh seseorang yang mempuyai perasaan indentitas yang diri kuat adalah seseorang yang memandang dirinya berbeda dengan orang lain termasuk persepsinya terhadap jenis kelamin, mempuyai otonomi yaitu mengerti dan percaya diri, respek diri mampu dan menguasai diri, mengatur diri sendiri dan menerima diri.
Dalam pemahaman konsep keperawatan khususnya dalam pandangan dalam pemenuhan kebutuhan dasar, Orem membagi dalam kelompok kebutuhan dasar yang terdiri dari pemeliharaan dalam pengambilan udara (oksigenasi) yang mempunyai tiga tahap dalam proses oksigenasi yaitu , ventilasi (proses keluar dan masuknya udara kedalam system pernapasan), perfusi dan difusi. Pemeliharaan dalam pengambilan air, pemeliharaan dalam pegambilan makanan, pemeliharaan kebutuhan, proses eliminasi, pemeliharaan keseimbangan aktivitas dan istirahat, pemeliharaan dalam keseimbangan antara kesendirian dan interaksi sosial, kebutuhan akan pencegahan risiko pada kehidupan manusia dalam keadaan sehat dan kebutuhan dalam perkembangan kelompok sosial sesuai dengan potensi, pengetahuan dan keinginan manusia.
2.2 Pengertian Keperawatan Menurut Orem
Menurutnya pelayanan manusia yang berpusat kepada kebutuhan manusia untuk mengurus diri bagaimana mengaturnya secara terus-menerus untuk dapat menunjang kesehatan dan kehidupan, sembuh dari penyakit atau kecelakaan dan menanggulangi akibat-akibatnya (Orem, 1971).
2.3 Teori Keperawatan Orem
Pandangan Teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan kepada kebutuhan individu dalam melakukan tindakan keperawatan mandiri serta mengatur dalam kebutuhannya. Dalam konsep praktek keperawatan Orem mengembangkan tiga bentuk teori Self care di antaranya:
2.3.1   Perawatan Diri Sendiri ( Self Care )
Dalam teori self care, Orem mengemukakan bahwa self care  meliputi Self Care itu sendiri, yang merupakan aktivitas dan inisiatif dari individu serta dilaksanakan oleh individu itu sendiri dalam memenuhi serta mempertahankan kehidupan, kesehatan serta kesejahteraan.
1.    Self Care Agency, merupakan suatu kemampuan individu dalam melakukan perawatan diri sendiri, yang dapat dipengaruhi oleh usia, perkembangan, sosiokultural, kesehatan dan lain-lain.
2.    Adanya tuntutan atau permintaan dalam perawatan diri sendiri yang merupakan tindakan mandiri yang dilakukan dalam waktu tertentu untuk perawatan diri sendiri dengan menggunakan metode dan alat dalam tindakan yang tepat.
3.    Kebutuhan Self Care merupakan suatu tindakan yang ditujukan pada penyediaan dan perawatan diri sendiri yang bersifat universal dan berhubungan dengan proses kehidupan manusia serta dalam upaya mempertahankan fungsi tubuh.

2.3.2    Self Care Defisit
Merupakan bagian penting dalam perawatan secara umum dimana segala perencanaan keperawatan diberikan pada saat perawatan dibutuhkan yang diterapkan pada anak yang belum dewasa, atau kebutuhan yang melebihi kemampuan serta adanya perkiraan penurunan kemampuan dalam perawatan dan tuntutan dalam peningkatan self care baik secara kualitas. Dalam pemenuhan perawatan diri serta membantu dalam proses penyelesaian masalah, Orem memiliki metode untuk proses tersebut diantaranya bertindak atau berbuat untuk orang lain, sebagai pembimbing orang lain,memberi support , meningkatkan pengembangan lingkungan pribadi serta mengajarkan atau mendidik pada orang lain.
Dalam praktek keperawatan Orem melakukan identifikasi kegiatan praktek dengan melibatkan pasien dan keluarga dalam pemecahan masalah (contohnya, masalah yang terjadi pada pasien atau keluarga yaitu masalah keuangan). Menentukan kapan dan bagaimana pasien memerlukan bantuan secara teratur bagi pasien dan mengkoordinasi serta mengintegrasikan keperawatan dalam kehidupan sehari-hari dan asuhan keperawatan diperlukan ketika klien tidak mampu memenuhi kebutuhan biologis, psikologis, perkembangan dan sosial.

2.3.3 Teori Sistem Keperawatan
Merupakan teori yang menguraikan secara jelas bagaimana kebutuhan perawatan diri pasien terpenuhi oleh perawat atau pasien sendiri yang didasari pada Orem yang mengemukakan tentang pemenuhan kebutuhan diri sendiri kebutuhan pasien dan kemampuan pasien dalam melakukan perawatan mandiri. Dalam pandangan teori sistem ini Orem memberikan identifikasi dalam sistem pelayanan keperawatan diantaranya :
2.3.3.1 Sistem bantuan secara penuh (Wholly Compensatory system)
Merupakan suatu tindakan keperawatan dengan memberikan bantuan secara penuh pada pasien dikarenakan ketidakmampuan pasien dalam memenuhi tindakan perawatan secara mandiri yang memerlukan bantuan dalam pergerakan, pengontrolan, dan ambulasi serta adanya manipulasi gerakan. Contohnya, pemberian bantuan pada pasien koma (penurunan kesadaran akibat penyakit).
2.3.3.2 Sistem bantuan sebagian (Partially Compensatory System )
Merupakan sistem dalam pemberian perawatan diri secara sebagian saja dan ditujukan kepada pasien yang memerlukan bantuan secara minimal seperti pada pasien yang post operasi abdomen dimana pasien ini memiliki kemampuan seperti cuci tangan, gosok gigi, cuci muka akan tetapi butuh pertolongan perawat dalam ambulasi dan melakukan perawatan luka. Contohnya perawatan pada  pasien  post operasi apendikstomi(operasi pembuangan total apendiks pada saluran pencernaan) dimana pasien tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perawatan pada luka bekas operasi tersebut.
2.3.3.3 Sistem Suportif dan Edukatif
Merupakan sistem bantuan yang diberikan pada pasien yang membutuhkan dukungan pendidikan dengan harapan pasien mampu memerlukan perawatan secara mandiri. Sistem ini dilakukan agar pasien mampu melakukan tindakan keperawatan setelah dilakukan pembelajaran. Contoh pemberian pendidikan kesehatan pada ibu dan bapak (keluarga) yang memerlukan informasi tentang pengaturan kelahiran anak dengan menggunakan kontasepsi (alat mencegah pembuahan).

2.4         Aplikasi Model Keperawatan Orem
Kasus :
Tn. J (50 th ) didiagnasis Diabetes Melitus tipe 2 (Diabetes Tidak Tergantung Pada Insulin).Dia memiliki riwayat hipertensi dan seorang perokok berat (30 batang/hari).
Perawatan yang dapat diberikan kepada Tn. J berdasarkan model keperawatan Orem adalah.
1.      Udara (educative/supportif). Perawatan harus mampu memberikan penjelasan Tn. J (50 tahun) tentang hubungan penyakit Hipertensi dengan merokok yaitu menghisap udara yang mengandung zat kimia aktif dari rokok.
2.      Air (enducative/supportif). Perawat harus mampu meyakinkan adanya hydration-rist yang cukup dari polidipsia (sering haus) yang memicu Hiperglicemia (kadar gula yang tinggi dalam darah).
3.      Activity and rest (adecative/supportif). Perawat menginformasikan pada pasien tentang kegiatan aktivitas yang cocok untuk pasien Diabetes Melitus.
4.      Elimination (educative/supportif) klien membutuhkan monitoring bagaimana melakukan Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air Kecil (BAK).
5.      Food (portial compensatory). Perawat menganjurkan atau mengatur pola diet yang cocok untuk pasien dengan Hipertensi dan mengalami Diabetes Melitus serta mengontrol gula darah setelah makan.
6.      Solitude and social interaction (partial compensatory) interaksi sosial dengan perawat dapat memberikan perubahan interaksi dengan tingkah sosial yang mengarah pada perilaku yang adaptif (baik).
7.      Hazard prevention (partial compensatory). Perawat memberikan pendidikan pada pasien tentang kelebihan dan kekurangan pengobatan yang akan diambil oleh pasien pada penyakit yang dialaminya saat ini.
8.      Promote Normality (partial compensatory). Perawat diharapkan dapat membantu pasien untuk mengembalikan diri pada kehidupan normal pasien, sehingga menjadi normal kembali.

2.5         Aplikasi Teori Orem
Kilen dewasa dengan diabetes militus menurut teori self care Orem dipandang sebagai individu yang memiliki kemampuan untuk merawat dirinya sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan mencapai kesejahteraan.
 Kondisi klien yang dapat mempengaruhi self-care dapat berasal dari faktor internal (dari dalam diri individu) dan eksternal (dari luar diri individu), faktor internal meliputi usia, tinggi badan, berat badan, budaya/suku, status perkawinan, agama, pendidikan dan pekerjaan. Adapun faktor luar meliputi dukungan keluarga dan budaya masyarakan dimana klien tinggal.
Klien dengan kondisi tersebut membutuhkan perawatan diri yang bersifat kontinun atau berkelanjutan. Adanya perawatan diri yang baik akan mencapai kondisi yang sejahtera. Klien membutuhkan tiga kebutuhan self care berdasarkan teori Orem yaitu:
1.    Universal self care requisites (kebutuhan perawatan diri secara menyeluruh) kondisi yang seimbang.
2.    Development self care requisites (kebutuhan perawatan diri pengembangan) fungsi klien sesuai dengan fungsi perannya. Perubahan fisik pada klien dengan Diabetes Melitus antara lain menimbulkan peningkatan dalam rasa haus, peningkatan selera makan, keletihan, kelemahan, luka pada kulit yang lama penyembuhannya, infeksi vagina atau pandangan pada mata berakibat mata kabur.
3.    Health deviation self care requisites (kebutuhan perawatan diri penyimpangan kesehatan) penyimpangan kesehatan seperti adanya Sindrom Hipergilkemik (kumpulan penyakit akibat peningkatan kadar gula dalam darah) yang dapat menimbulkan kehilangan cairan dan elektrolit (dehidrasi), hipotensi (tekanan darah rendah) ,perubahan sensorik (perubahan pada indera perasa), kejang-kejang, takikardi (frekuensi jantung yang meningkat) dan hemiparesis (kelumpuhan separu badan). Klien Diabetes Melitus akan mengalami penurunan  pola makan dan adanya komplikasi yang dapat mengurangi kerharmonisan pasangan dalam melakukan hubungan intim (misal infeksi vagina dan bagian tubuh lainnya).
Ketidakseimbangan baik secara fisik maupun mental yang di alami oleh klien dengan Diabetes Melitus menurut Orem disebut dengan self care-deficit. Menurut Orem peran perawat dalam hal ini yaitu mengkaji klien sejauh mana klien mampu untuk  merawat dirinya sendiri dan mengklasifisikannya sesuai dengan klafisikasi kemampuan klien.

2.6    Deskripsi Konsep Sentral Orem
2.6.1   Manusia
Suatu kesatuan yang di pandang sebagai fungsi secara biologis simbolik dan sosial serta berinisiasi dan melakukan kegiatan asuhan/perawatan mandiri untuk mempertahankan kehidupan, kesehatan dan kesejahteraan. Kegiatan asuhan keperawatan mandiri terkait dengan:
1.    Udara yaitu menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida
2.    Air
3.    Makanan
4.    Eliminasi mengeluarkan zat-zat yang tidak diperlukan oleh tubuh melalui sekresi urin (air kencing) dan feses.
5.    Kegiatan dan istirahat
6.    Interaksi sosial
7.    Pencegahan terhadap bahaya kehidupan
8.    Kesejahteraan dan peningkatan fungsi manusia

2.6.2   Masyarakat/lingkungan
Lingkungan sekitar individu yang membentuk sistem terintegrasi (menyatu) dan interaktif (iteraksi).
2.6.3    Kesehatan
Suatu keadaan yang dicirikan oleh keutuhan struktur manusia yang berkembang dan berfungsi secara fisik dan jiwa yang meliputi aspek fisik, psikologik , interpersonal dan sosial. Kesejahteraan digunakan untuk menjelaskan tentang kondisi persepsi individu terhadap keberadaannya. Kesejahteraan merupakan suatu keadaan dicirikan oleh pengalaman yang menyenangkan dan berbagai bentuk kebahagiaan lain, pengalaman spiritual , gerakan untuk memenuhi ideal diri seseorang dan melalui personalisasi berkesinambungan. Kesejahteraan berhubungan dengan kesehatan , keberhasilan dalam usaha dan sumber yang memadai.
2.6.4   Keperawatan
Pelayanan yang membantu manusia dengan tingkat ketergantungan sepenuhnya atau sebagian pada bayi, anak dan orangb dewasa, ketika mereka, orang tua mereka, wali atau orang dewasa lain yang bertanggung jawab terhadap pengasuhan atau perawatan pada mereka tidak lagi mampu merawat atau mengawasi mereka. Upaya kreatif manusia ditunjukan untuk menolong sesama. Keperawatan merupakan tindakan yang dilakukan secara sengaja dan mempuyai tujuan suatu fungsi yang dilakukan perawat karena memiliki kecerdasan, serta tindakan yang memungkinkan pemulihan kondisi secara manusiawi pada manusia dan lingkungannya.
2.7    Ambulasi dan Perawatan Luka
Ambulasi dini pada pasien menjalani latihan berjalan pertama yang dilakukan setelah proses pembedahan operasi. Setelah melakukan proses dagling, bila pasien dalam keadaan baik-baik saja, lalu dilanjutkan dengan tahap ambulasi dini meliputi :
1.    Pastikan tempat tidur dalam posisi terendah. Sediakan sebuah kursi untuk berjaga-jaga kalau pasien lelah.
2.    Setelah pasien melakukan dangling tanpa rasa sakit, bantu pasien untuk berdiri, periksa nadi pasien.
3.    Pindahkan lengan perawat kebelakang pinggang pasien dan berbalik   sehingga perawat menghadap ke arah yang sama dengan pasien.
4.    Pasien berjalan dengan jarak pendek dan kembali kesisi tempat ridur. Jika pasien tampak lelah dan akan pingsan atau terjadi perubahan besar pada nadi, biarkan pasien beristirahat.
5.    Jika pasien pingsan saat melaksanakan ambulasi dini:
1)   Dengan berlahan turunkan pasien ke lantai
2)   Lindungan kepala pasien
3)   Jangan mencoba menahan pasien berdiri
4)   Beri tanda untuk meminta bantuan
6.    Setelah selesai, cuci tangan dan dokumentasikan waktu (durasi) ambulasi dini, nadi dan reaksi pasien.
Perkembangan perawatan luka (wound care) berkembang dengan sangat pesat didunia kesehatan. Metode perawatan luka yang berkembang saat ini adalah perawatan luka dengan menggunakan prinsip moisture balance, dimana disebutkan daalam beberapa literature lebih efektif untuk proses penyembuhan luka bila dibandingkan dengan metode konvensional.
Perawatan luka berbeda-beda tergantung pada tingkat keparahan luka tersebut. Perawatan luka paling sulit tergantung pada derajat luka. Jika luka mendalam sampai ke lapisan kulit paling dalam, proses sembuhnya tentu saja paling lama. Seperti pada kasus luka akibat penyakit diabetes misalnya, terdapat kasus bahwa luka tersebut harus diamputansi. Namun tindakan amputansi ternyata bisa gagal setelah dirawat dengan saksama dan dengan metode yang benar dan tentunya seperti pada kasus luka akibat diabetes tergantung pada kedisiplinan perawatan. Untuk itu harus diperkenalkan pada masyarakat bahwa telah ada program perawatan dirumah atau home care dengan perawatan datang kerumah.

2.8    Riset Keperawat Atas Dasar Teori Orem
Berikut ini merupakan riset yg berhubungan dengan teori orem:
APLIKASI TEORI SELF-CARE DEFICIT OREM DALAM KONTEKS TUNA WISMA (THE APPLICATION OF OREM’S SELF CARE DEFICIT IN HOMELESS SETTING) OLEH MEGAH ANDRIYANI
Kesehatan tuna wisma menjadi tanggung jawab pemerintah dan semua pihak untuk menciptakan derajat kesehatan warga negara yang optimal. Tuna wisma juga merupakan klien yang patut mendapat perhatian khusus bagi perawat kesehatan komunitas.Teori Perawatan Diri banyak digunakan dalam ilmu keperawatan untuk memberikan kerangka kerja konseptual sebagai panduan praktik dan membangun pengetahuan perawatan diri melalui riset. Orem mendeskripsikan perawatan diri sebagai tindakan yang berkesinambungan yang diperlukan dan dilakukan oleh orang dewasa untuk mempertahankan hidup, kesehatan dan kesejahteraan. Teori ini juga digunakan dalam konteks tuna wisma oleh banyak ahli. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep Teori Perawatan Diri Orem, mendeskripsikan kondisi perawatan  diri tuna wisma, dan mengaplikasikan Teori Perawatan Diri Orem dalam konteks tuna wisma.
HUBUNGAN TINGKAT SELF CARE DENGAN KEJADIAN KOMPLIKASI PADA PASIEN DM TIPE 2 DI RUANG RAWAT INAP RSUD OLEH SILVIA JUNIANTY
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis bila disertai komplikasi diabetik. Self care terdiri atas pengontrolan gula darah, insulin/Obat Anti Diabetes, perencanaan makan, olahraga, dan penanganan hipoglikemik dalam pengelolaan DM menjadi tidak efektif akibat pemahaman yang bervariasi. Penelitian bertujuan mengetahui hubungan antara tingkat self care dengan kejadian komplikasi pada pasien DM tipe 2. Jenis penelitian deskriptif korelasi yang menggunakan teknik purposive sampling dengan sampel sejumlah 55 orang.  Pengumpulan data menggunakan kuesioner self care inventory revised (SCI-R). Analisis univariat menggunakan skor T, sedangkan bivariat menggunakan korelasi chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien tingkat self care tinggi atau rendah dapat menyebabkan kejadian komplikasi yang ditunjukkan melalui hubungan yang rendah dan pasti. Peran perawat adalah sebagai advokat dan edukator dalam melindungi hak pasien dan memberikan informasi tentang pentingnya penerapan self care dalam kehidupan sehari-hari.

 

 
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, A.Aziz Alimul,2007.Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
A.  Aziz Alimul H, 2012. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba Medika.
H. Zaidin Ali, 2001. Dasar-Dasar Keperawatan Profesional. Jakarta: Widya Medika.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar